Potensi Rugi Telkom Rp 1,08 Triliun
Investor Daily, 25 Juli 2005

JAKARTA, Investor Daily

Manajemen PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) menanggung beban keuangan cukup berat menyusul perpindahan frekuensi Flexi dan implementasi kode akses SLJJ. Telkom terancam kehilangan 30% pelanggan Flexi dengan potensi kerugian Rp 1,08 triliun per tahun akibat perpindahan frekuensi itu.

Demikian rangkuman wawancara Investor Daily dengan pengamat telekomunikasi dari Universitas Indonesia Heru Sutadi, Ketua Masyarakat Telekomunikasi Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, dan analis dari Kuo Capital Edwin Sinaga di Jakarta, akhir pekan lalu.

Namun, Wakil Dirut Telkom Garuda Sugardo mengimbau pelanggan Flexi tidak perlu resah karena perseroan tidak akan membebankan biaya perpindahan frekuensi tersebut kepada konsumen. "Pelanggan tidak akan dirugikan," tegasnya.

Seperti diberitakan, pekan lalu Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Sofyan Djalil mengeluarkan surat keputusan yang mengharuskan pindahnya frekuensi telepon berbasis CDMA di 1.900-1.980 MHz. Frekuensi yang digunakan Telkom Flexi tersebut akan dialokasikan untuk 3G (seluler generasi ketiga).

Menurut Heru, dengan pemindahan frekuensi Flexi, Telkom harus mensinkronkan fasilitas di base transceiver station (BTS), dengan biaya Rp 100 juta-Rp 200 juta per BTS. Hingga kini, lebih dari 1.250 BTS Telkom melayani sekitar tiga juta pelanggan Flexi di 216 kota. Dari perbaikan BTS, Telkom harus mengeluarkan dana sekitar Rp 250 miliar.

"Kompetitor Telkom akan memanfaatkan momentum perpindahan frekuensi yang notabene berpengaruh terhadap handset single band yakni hanya 1.900 MHz. Saya perkirakan sekitar 30% pelanggan Flexi akan pindah ke operator lain," tutur Heru.

Heru menyarankan agar perbaikan BTS dilakukan seremtak. Jika tidak, citra Telkom akan buruk di mata pelanggan Flexi dan mendorong terjadinya migrasi. Dia memperkirakan Telkom kehilangan sepertiga atau 900.000 pelanggan Flexi. Dengan asumsi angka penggunaan rata-rata per pelanggan (ARPU) sekitar Rp 100 ribu, potensi kehilangan pendapatan (potential loss) Telkom mencapai Rp 90 miliar per bulan atau Rp 1,08 triliun setahun.

Menurut Heru, pemberlakuan SK Menkominfo itu juga berdampak pada komunitas warnet. "Komunitas warnet berpotensi meninggalkan layanan Speedy Telkom serta implementasi sistem kliring trafik telekomunikasi (SKTT)," katanya.

Flexi ditargetkan memberi kontribusi pendapatan Rp 2,5 triliun pada 2005. Tahun ini, Telkom menyiapkan Rp 1,7 triliun untuk pengembangan Flexi. Sebagian besar dana diperuntukkan menambah 500 BTS. Sepanjang dua tahun terakhir, Telkom telah mengeluarkan dana lebih dari Rp 2 triliun untuk pengembangan Flexi.

Tak Perlu Resah
Sementara itu, Wakil Dirut Telkom Garuda Sugardo mengatakan, kebijakan pemerintah termasuk pemindahan frekuensi merupakan hal yang biasa dan menjadi tantangan bagi manajemen. "Saya rasa ini merupakan bagian dari reformasi industri telekomunikasi," ujar dia kepada Investor Daily, Sabtu (23/7).

Tentang pemindahan frekuensi Flexi, kata Garuda, pelanggan dan para distributor tidak perlu resah. Pelanggan tidak boleh dirugikan. Sebab, pemindahan itu berlaku lima tahun.

Pemindahan frekuensi , kata Garuda, akan berpengaruh pada pelanggan Flexi di kawasan DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. "Pelanggan yang menggunakan handset 1.900 MHz akan terkena dampaknya. Jumlahnya sekitar 400 ribu," kata Garuda.

Ia menegaskan, lima tahun cukup bagi Telkom untuk melakukan pengkajian dan reengineering dari segi teknis, marketing, pelayanan, dan penghitungan finansial. "Memang ada konsekuensi keuangan yang harus ditanggung Telkom," kata dia. Garuda menepis perkiraan adanya potensi kehilangan pendapatan akibat perpindahan frekuensi Flexi.

Menyinggung migrasinya pengguna layanan Speedy, menurut Garuda, pihaknya segera menambah lebar pita (bandwidth) Speedy. "Permasalahannya, pemakaian Speedy cukup besar, tapi kita segera menambah bandwidth. Mudah-mudahan dalam waktu dekat dapat diatasi," katanya.

Kode Akses
Terkait implementasi kode akses SLJJ, menurut Garuda, masih dalam tahap pengkajian, termasuk kemungkinan membuka kerja sama untuk operasi SLJJ. Ia menuturkan, pihaknya Senin (25/7) baru mendapat informasi mengenai kepastian pelaksanaan kode akses SLJJ. Telkom berharap, implementasi itu mempertimbangkan asas manfaat, keadilan dan pemerataan. "Telkom telah membangun dengan investasi cukup besar, membangun customer base hampir 60 tahun," ujarnya.

Heru Sutadi menyatakan, potential loss Telkom akibat implementasi kode akses SLJJ diperkirakan mencapai 3% dari pendapatan pada jangka pendek.

Bisnis SLJJ memberikan kontribusi terhadap pendapatan Telkom sekitar 25% hingga 35%. Total pendapatan Telkom - non konsolidasi, sekitar Rp 23,5 triliun pada 2004. (lihat tabel).

Sedangkan dari sisi pendapatan interkoneksi - terkait implementasi SKTT, menurut Heru, Telkom diperkirakan akan kehilangan potensi pendapatan sekitar 20%. Tahun lalu, pendapatan interkoneksi Telkom sebesar Rp 6,1 triliun.

"Telkom cukup dominan dalam pelaksanaan settlement interkoneksi lewat SOKI. Jika SKTT diterapkan bisa jadi pendapatan Telkom berkurang 20% dari interkoneksi," kata Heru.

Takkan Bangkrut
Sedangkan Mas Wigrantoro Roes Setiyadi menilai, meski Telkom menghadapi tantangan berat, BUMN itu tetap akan mampu menjadi pemain telekomunikasi yang dominan. "Semua itu berpengaruh tapi saya yakin itu tidak akan membuat Telkom bangkrut atau rugi," katanya. Ia menilai, Telkom memiliki sumber daya manusia (SDM) yang tangguh dan aset yang memadai.

Mas Wig mengingatkan, regulator harus bersikap adil terhadap Telkom. "Untuk kebijakan pemindahan frekuensi, Telkom harus mendapatkan kompensasi dari pemerintah. Sebab, pemindahan frekuensi Flexi merupakan tanggung jawab pemerintah. Di samping itu, Telkom juga harus dijauhkan intervensi kepentingan politik," ujar dia.

Sementara itu, analis Edwin Sinaga mengatakan, dalam jangka pendek bisa saja berbagai kebijakan pemerintah -- termasuk pungutan 0,75% kontribusi operator untuk program universal service obligation (USO), akan berdampak negatif. "Ya mungkin, dalam jangka pendek earning berkurang," kata dia.

Tapi, ujar Edwin, dalam jangka panjang kinerja Telkom tetap akan berkembang. Alasannya, industri telekomunikasi masih memiliki potensi sangat besar, karena tingkat penetrasi dalam industri ini masih rendah. (tri/ed)

 

 

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
Boleh Mengutip, Memperbanyak dan Menyebarkannya
dengan Mencantumkan Sumbernya

2005 © Heru Production