Pemerintah Berlakukan Kode Akses SLJJ Baru
Investor Daily, 2 April 2005

JAKARTA, Investor Daily

Mulai 1 April 2005, pemerintah memberlakukan kode akses baru sambungan langsung jarak jauh (SLJJ), yakni 011 untuk jaringan PT Indosat Tbk dan 017 milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom). Namun, pelanggan juga masih bisa menggunakan kode akses lama yang berawal 0 (misalnya, 021 untuk area Jakarta), seperti berlaku selama ini.

"Penggunaan prefiks 0 ini bertujuan untuk mengurangi kegagalan panggil, dan sekaligus memacu semua operator untuk membangun customer based-nya sendiri," kata Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Sofyan A Djalil, di Jakarta, Jumat (1/4).

Untuk menggunakan kode akses baru, pengguna harus menekan angka 011 atau 017 dilanjutkan kode area dan nomor tujuan. Namun, Telkom tidak akan langsung menerapkan kode akses 017. "Itu (017) diterapkan bertahap. Pelanggan Telkom silakan langsung tekan kode 0 (misalnya, 021 untuk Jakarta)," ujar Abdul Haris, direktur bisnis jaringan Telkom, kepada Investor Daily, Jumat (2/4).

Ketentuan kode akses itu dituangkan dalam Pengumuman Menkominfo No 92/M.Kominfo 2005 tanggal 1 April 2005. Untuk tahap awal, pemerintah menetapkan kode akses SLJJ 011 untuk Indosat di lima wilayah, yakni kode area 021 (Jakarta), 031 (Surabaya), 0361(Denpasar), 0778 (Batam), dan 061 (Medan).

Pemerintah menetapkan kelima area itu karena secara teknis Indosat siap untuk berinterkoneksi. Pemerintah akan membuka kode akses SLJJ 011 bagi kode area lain bila secara teknis memungkinkan dan operator siap berinterkoneksi.

Dirjen Postel Djamhari Sirat menambahkan, pemerintah akan membentuk tim koordinasi yang terdiri atas Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) atau Ditjen Postel, Telkom, Indosat, pakar, dan penilai independen. Tim itu bertugas untuk menentukan tahapan penerapan kode akses 011 dan 017.

Dia menjelaskan, tim itu akan merekomendasikan tahapan pembukaan kode akses, mulai prakondisi hingga sempurna. "Artinya, 017 terbuka semua dan 011 terbuka semua," kata Djamhari.

Pemerintah juga telah menetapkan perubahan kode akses internet teleponi untuk kepentingan publik (ITKP). Saat ini, Telkom menggunakan kode akses 017 dan Indosat berkode 016. Kode akses ITKP harus diganti dengan 010XY paling lambat 31 Desember 2005. Untuk itu, semua penyelenggara ITKP wajib menyosialisasikan perubahan kode akses ITKP baru.

Menanggapi keputusan Menkominfo, PT Telkom menganggap penetapan kode akses SLJJ baru tidak menghalangi target kinerja perseroan secara menyeluruh. Alasannya, konstribusi SLJJ hanya berkisar 25-35% dari total pendapatan PT Telkom. "Perubahan juga diikuti dengan terjadinya kompetisi di bisnis layanan internasional," jelas Haris.

Telkom telah masuk ke bisnis layanan internasional melalui produk Telkom International Call (TIC) 007. Produk TIC 007 memberikan kontribusi pendapatan signifikan. "Kami yakin penerapan kebijakan kode akses baru justru menumbuhkan volume bisnis SLJJ," kilah Haris.

BUMN itu siap melakukan inovasi dan menciptakan nilai tambah bagi pelanggan guna memenangi kompetisi. Telkom optimistis mampu mempertahankan pelanggan SLJJ. Haris yakin penggunaan prefiks 0 tetap mengikat pelanggan Telkom yang menginginkan kepraktisan. "Ketimbang pelanggan bingung-bingung mau mencet kode akses lain, mereka bisa tetap pakai yang nol saja, kode akses yang biasa selama ini," katanya.

Di tempat terpisah, Direktur Indosat Soetrisman menegaskan, pihaknya juga siap bersaing. Hingga kini, Indosat telah menyelesaikan pembangunan sentral gerbang jarak jauh (SGJJ) di 23 lokasi. "Kita sudah bisa ready (berinterkoneksi). Tapi, pemerintah memiliki pertimbangan lain, dan kita sebagai operator mengikuti saja," ujar dia.

Mengenai kontribusi bisnis SLJJ bagi Indosat, Soetriman belum bisa memastikannya. Namun, jelas dia, jumlah SGJJ Indosat hanya selisih empat lokasi dibandingkan milik Telkom. SGJJ Indosat tersebar di berbagai kota di wilayah Sumatera, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Kalimantan, hingga Sulawesi.

Bila semua sudah aktif , menurut dia, jaringan SLJJ Indosat sudah cukup luas dan menyebar. Kini, Indosat berupaya memberikan pelayanan yang baik bagi pelanggan untuk bisa bersaing. "Revenue, kan, fungsi dari layanan," katanya.

Sementara itu, Asmiati Rashid, pendiri Center for Indonesia Telecommunications Regulation Study (Citrus), mengatakan, penetapan kode akses itu tidak menguntungkan Telkom. Sebab, Indosat yang baru memiliki 500 ribu pelanggan, dapat mengakses pelanggan Telkom yang jumlahnya sudah di atas sembilan juta. "Pada tahap awal, Indosat telah siap mengambil pelanggan Telkom di wilayah gemuk, seperti Surabaya dan Jakarta," ujar dia.

Di kedua wilayah itu, jaringan SGJJ Indosat telah terinterkoneksi. Repotnya lagi, menurut Asmiati, Telkom juga harus mengubah kode akses layanan sambungan internasional (ITKP/VOIP) Telkom Global 017 menjadi 010XY. "Kode akses layanan internasional Telkom menjadi aneh. Mana ada yang mau pakai nanti, padahal saya yakin ITKP 017 telah memberikan kontribusi pendapatan yang baik bagi perseroan," katanya.

Respons Positif
Di sisi lain, Heru Sutadi, pengamat telekomunikasi, mengatakan, kebijakan pemerintah itu sudah tepat dan sesuai peraturan yang mengacu pada semangat kompetisi. Dia yakin perubahan kode akses itu akan memperbaiki iklim kompetisi dalam industri telekomunikasi ke depan.

Serikat Karyawan (Sekar) Telkom juga menanggapi positif pengumuman Menkominfo. Ketua Sekar Telkom Wartono Purwanto mengatakan, pihaknya memahami sulitnya posisi Menkominfo dalam mengambil keputusan yang tepat tentang kode akses SLJJ. "Pada prinsipnya, Sekar mendukung pengaturan bisnis yang fair, yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat sebagai ultimate goal dari penataan industri telekomunikasi di Indonesia," ujar Wartono, di Bandung, Jumat (2/4).

Dia menilai keputusan mempertahankan kode akses 0 masuk akal. Sebab, penghapusan kode akses SLJJ 0 dan menggantinya dengan 01X akan menimbulkan problem besar yang merugikan banyak pihak, termasuk masyarakat pelanggan, pengguna telepon SLJJ eksisting, dan keuangan negara.

Untuk memacu basis pelanggan sendiri, Wartono menyarankan perlu adanya target jumlah yang lebih tegas. "Teledensitas kita masih rendah, bahkan dibanding dengan negara tetangga sekalipun," tandas dia.(ed/tri)

 

 

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
Boleh Mengutip, Memperbanyak dan Menyebarkannya
dengan Mencantumkan Sumbernya

2005 © Heru Production