Awari Imbau Warnet Naikkan Tarif
Investor Daily, 7 Maret 2005

JAKARTA, Investor Daily

Ketua Presidium Asosiasi Warung Internet Indonesia (Awari) Judith MS Lubis menyarankan warnet dan game center untuk menaikkan tarif sehubungan dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Sedangkan pengamat telematika Heru Sutadi mengatakan, kenaikan tarif warnet akibat naiknya BBM adalah hal yang tidak terhindarkan.

Judith mengatakan, sudah selayaknya warnet memasang tarif yang wajar agar bisa mengembangkan usahanya dan industri warnet itu sendiri. "Sudah lumrah, kenaikan BBM biasanya berdampak pada aspek lainnya, seperti listrik dan harga kebutuhan pokok. Yang artinya, kebutuhan hidup juga meningkat. Saya harap, warnet kompak menaikkan harga. Tapi, dia juga harus meningkatkan kualitas ke pelanggan," ujar Judith kepada Investor Daily, Minggu (6/3).

Judith menambahkan, tarif yang kini banyak diberlakukan oleh warnet, yang berkisar antara Rp 2.500 - 3.000, hanya cukup untuk membayar akses dari provider dan menutup biaya operasional. "Dengan harga seperti itu, mana bisa sebuah warnet mengembangkan usahanya untuk memberikan layanan yang baik. Bagaimana dia berpikir untuk investasi ke depan?" kata Judith beretorika.

Judith mencontohkan sebuah warnet yang berada di bilangan Jakarta Selatan. Menurut dia, warnet tersebut setidaknya harus mengeluarkan dana operasional minimal Rp 10 juta per bulan, dengan perincian untuk biaya berlanggganan ADSL

(Asymmetric Digital Subscriber Line, red) Rp 4 juta, biaya listrik Rp 3 - 3,6 juta, menggaji tiga operator, dan biaya lainnya. "Sementara dia cuma punya 20 komputer dan kasih tarif Rp 3.000 per jam. Otomatis, pendapatannya hanya cukup menutup biaya operasional," terang Judith.

Dia menambahkan, kebanyakan warnet yang masih bertahan dengan tarif Rp 3.000 per jam biasanya menggunakan peranti lunak bajakan. "Saya berani bertaruh, 90% warnet menggunakan software ilegal. Ini kan tidak bagus buat industri. Kalau ada sweeping, mereka pasti kena," tandasnya.

Tarif Wajar
Judith menambahkan, dari sejumlah warnet di kota besar seperti Jakarta, hanya 20% warnet yang kategori layanannya, termasuk kecepatan akses, bisa dibilang baik. "Mereka biasanya warnet yang sudah menggunakan wireless atau ADSL dan minimal mematok tarif Rp 7.000 perjam," kata dia.

Karena itu, Judith menilai, Rp 5 ribu per jam merupakan tarif yang yang wajar dipatok oleh warnet supaya bisa berkembang dan berbisnis dengan baik. "Selain karena kenaikan BBM, sudah selayaknya warnet menaikkan tarif. Sebab, teknologi juga mahal," tambahnya.

Menurut dia, pengguna tidak akan ‘lari’ jika warnet mematok harga seperti itu. "Sebetulnya, yang dikhawatirkan itu warnet dijadikan sebagai sarang kejahatan, seperti carding dan sebaginya. Orang tua jadi takut anaknya datang ke warnet," tutur Judith.

Dia menambahkan, imbauan tersebut diumumkan terlepas dari langkah para penyelenggara jasa Internet (PJI) untuk menaikkan tarif atau tidak.

"Saya kira, apakah ISP (PJI, red) nantinya menaikkan tarif atau tidak, warnet tetap wajar menaikkan tarif. Sebab, kalau tidak, bagaimana industri ini bisa sehat," tandasnya.

Judith mengaku, sejauh ini belum melihat adanya warnet yang sudah menaikkan tarif setelah naiknya BBM. "Mereka takut, kalau naik pelanggan enggak mau datang. Saya bilang, kalau layanan ditingkatkan, mereka akan tetap datang," kata dia.

Tak Terhindarkan
Secara terpisah, pengamat telematika Heru Sutadi mengatakan kenaikan tarif warnet akibat naiknya BBM adalah hal yang tidak bisa dihindari, sehubungan dengan bakal naiknya harga kebutuhan hidup. Namun, alangkah baiknya jika kenaikan itu juga diberlakukan oleh PJI. "Biar seiring. Tapi, seandainya tidak ada kenaikan dari PJI, kenaikan tarif oleh warnet adalah efek domino dari kenaikan BBM yang tidak bisa dihindari," tuturnya.

Heru menilai, masyrakat kemungkinan dapat menerima hal itu. Mungkin saja nantinya terjadi sedikit penurunan dari segi pelanggan, baik secara kualitas maupun kuantitas."Mungkin, yang biasanya orang pakai dua jam, dengan adanya kenaikan tarif, dia kurangi jadi satu jam. Tapi, hal itu masih bisa diterima," tambahnya.

Heru menilai, tarif yang dikenakan oleh warnet saat ini umumnya memang masih di bawah wajar. Menurut dia, tarif yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat kota besar, khususnya yang menginginkan akses yang cepat, berkisar antara Rp 4.500 - 6.000. Sementara, dengan adanya kenaikan BBM, tarif yang pantas bisa berkisar antara 5.500 - 7.500.

Seorang anggota Awari yang memantau warnet dan game center di Jakarta Selatan mengaku, para pengusaha industri itu telah menaikkan tarif Rp 500 hingga Rp1.000. (kwh)

 

 

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
Boleh Mengutip, Memperbanyak dan Menyebarkannya
dengan Mencantumkan Sumbernya

2005 © Heru Production