JAKARTA, Investor Daily
Pola penggunaan telepon disinyalir bergeser dari telepon tetap (fixed line) ke telepon seluler.
"Orang sudah segan menggunakan telepon di rumah. Padahal, tarifnya lebih murah,"kata Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) Kristiono, baru-baru ini.
Menurut dia, fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak kritis tehadap tarif telepon. Semestinya, masyarakat banyak diuntungkan dengan menggunakan telepon tetap. Telepon tetap tidak dikenai airtime sehingga harganya murah. Di samping itu, telepon tetap juga tidak mengenal adanya interference dan blankspot, serta siap untuk voice, data, dan multimedia.
Menjawab tantangan tersebut, Telkom berupaya meningkatkan bisnis telepon tetap melalui program fix 2 fix. Diharapkan program itu mampu meningkatkan usage wireline sebagai kontributor utama revenue Telkom. Program itu merangsang pelanggan Telkom untuk meningkatkan penggunaan teleponnya dengan diming-imingi telepon berhadiah, Telkom Frekuent Caller (loyalty program) serta bisa mengirim dan menerima pesan singkat elektronik (SMS) melalui telepon rumah dan sebagainya.
Di samping itu, Telkom juga berupaya meningkatkan kualitas jaringan kabel sehingga memungkinkan tersedianya layanan broadband atau Speedy. Peningkatan kualitas jaringan telah dilakukan di dua kota, yakni, Jakarta dan Surabaya. Tercatat, hingga akhir tahun 2004, perseroan telah menggelar 10.710 satuan sambungan layanan (SSL). Sedangkan, tahun 2005 ini, ditargetkan Speedy akan diperluas ke seluruh divisi dengan target pembangunan sebesar 211.715 SSL dan target pemasaran sebanyak 185.100 SSL.
Pengamat telekomunikasi Danrivanto Budhiyanto melihat pergeseran penggunaan telepon tetap terjadi karena tingkat mobilitas masyarakat tinggi. Sedangkan, lokasi perumahan yang banyak berada di daerah pinggiran dinilai turut memicu berkurangnya penggunaan telepon tetap.
"Bila orang itu bekerja di Jakarta, tapi tinggalnya di Bekasi, bisa jadi, dia memang lebih banyak menggunakan telepon mobile ketimbang telepon rumah," kata Danri
Sementara itu, pengamat telekomunikasi Heru Sutadi mengatakan, pergeseran penggunaan telepon tetap mungkin saja terjadi, tapi hanya terbatas di kota-kota besar. Meski demikian, di kota besar pun, sejauh ini peranan telepon tetap dan seluler masih saling melengkapi. Di daerah-daerah, telepon tetap dipastikan sangat dibutuhkan masyarakat sebagai sarana komunikasi utama. Sehingga, pembangunan telepon tetap masih amat dibutuhkan.
Minim Insentif
Kristiono mengatakan, investasi layanan telepon tetap (fixed line) minim insentif. Kondisi demikian menyebabkan sedikitnya minat pemodal berinvestasi. Akibatnya, pertumbuhan layanan itu menjadi lambat.
"Growth (pertumbuhan) fixed line, tergantung return dari investasi. Mestinya, pelaku bisnis nggak perlu disuruh-suruh untuk investasi, sepanjang pengembalian investasi memadai mereka mau melakukan," kata dia..
Biaya investasi telepon tetap cukup besar. Namun, layanan telepon ini hanya menawarkan tarif yang sangat rendah bahkan masih mengandung unsur subsidi, bagi telepon lokal. Sehingga, bisnis ini tidak memiliki daya tarik bagi investor.
Keadaan ini dinilai sangat berbeda dengan kondisi bisnis seluler. Investasi bisnis seluler lebih murah dibandingkan telepon tetap. Namun, operator seluler bisa menawarkan tarif yang jauh lebih mahal. Sebagai perbandingan, tarif lokal fixed line besarnya sepertiga dari tarif seluler lokal. Padahal, invetasi di fixed line mencapai US$ 700 hingga US$ 800 per satuan sambungan telepon (SST), sedangkan, telepon wireless hanya memerlukan investasi sebesar US$ 150 hingga US$ 200 per SST.
Keadaan ini, menurut Kristiono, semakin diperburuk dengan adanya pola penggunaan telepon masyarakat yang mulai bergeser, dari telepon tetap ke seluler. Sebagian masyarakat kini lebih memilih menggunakan seluler ketimbang telepon rumah. "Orang sudah segan menggunakan telepon di rumah padahal murah, bahkan masih disubsidi. Sebaliknya seluler mahal karena mesti bayar airtime, ditambah ada keluhan blankspot lagi," kata Kristiono.
Untuk menaikkan tingkat penetrasi, Telkom mengaku tidak memiliki pilihan lain, kecuali menggunakan solusi teknologi dengan mengembangkan telepon wireless. Dengan investasi yang lebih murah, Telkom optimistis pembangunan telepon wireless dapat meningkatkan penetrasi telepon. Tercatat, hingga akhir 2004, perseroan telah membanguan lebih dari 12 juta sambungan telepon yang meliputi jaringan telepon kabel dan tanpa kabel. Tahun 2005, Telkom menargetkan penambahan jumlah pelanggan telepon kabel sebesar 435 ribu SST, sementara, penambahan sambungan Telkom Flexi sebanyak 1.543 juta satuan sambungan flexi (SSF).
Sementara itu, beberapa pengamat telekomunikasi mengatakan, dengan tingkat teledensitas telepon masih di kisaran 4% saat ini, kehadiran telepon tetap sebenarnya masih dibutuhkan. Untuk itu, pihak pemerintah diharapkan memberikan insentif bagi pemain bisnis fixed line ini. Seperti, insentif kenaikan tarif telepon tetap, yang kini dinilai masih tidak memadai. "Kenaikan tarif telepon tetap dapat dilakukan setelah cost base pricing atau biaya aktual ditemukan," kata seorang pengamat. (tri)