Lions Club dan APWKomitel Perkenalkan Internet ke Masyarakat Awam
Investor Indonesia, 2 Februari 2005

JAKARTA, Investor Daily Online

Lions Club, kelompok yang peduli pada bidang sosial dan kemanusiaan, dan Asosiasi Pengusaha Warnet Komunitas Telematika (APWKomitel) mensponsori suatu kegiatan untuk memberi kesempatan kepada masyarakat awam mengenal komputer dan Internet. Inisiatif itu didasari oleh perkiraan yang menyebutkan bahwa baru sekitar 5% penduduk Indonesia yang mengenal Internet. Dengan demikian, diasumsikan bahwa hanya 5% dari penduduk Indonesia di sekitar warnet yang berani mengunjungi akses Internet publik tersebut. Dalam siaran persnya, Selasa (1/2), Ketua Umum APWKomitel Rudy Rusdiah mengatakan, tanpa terlalu memboroskan dana Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), menambah pinjaman luar negeri atau devisa untuk membangun infrastruktur teknologi tinggi, perlu diupayakan agar 95% penduduk yang belum berani ke warnet, mau masuk warnet pada tahun depan.

"Jadi, investasinya bukan hanya di infrastruktur tapi awareness dan capacity building agar separuh dari 95% ini berani ke warnet," kata Rudy. Dia menambahkan, jika itu terealisasi maka pada 2006, Indonesia sudah melewati target 20 juta penduduk Indonesia menjadi pengguna Internet. Jika kondisi ini menyebabkan trickle down effect dan snow ball effect, ekonomi akan bergerak dan makin banyak warnet akan tumbuh. "Dari double mungkin effect-nya bisa quadruple," kata Rudy.

Motivasi Sosial dan Bisnis
Dalam kesempatan terpisah, kepada Investor Daily, Rudy mengatakan, motivasi pelaksanaan kegiatan tersebut adalah kepedulian untuk memajukan dunia telematika sekaligus memajukan bisnis warnet.

"Kami di komunitas telematika melihat adanya kesenjangan yang besar. Tiap hari kita berhubungan dengan email, milist dan berbagai macam informasi. Sementara mereka tidak memiliki akses ke situ. Gap-nya terlalu besar," kata Rudy.

Selain itu, pihak penyelenggara melihat adanya kendala yang cukup besar dalam memasyarakatkan dunia informasi, yaitu harga komputer dan peranti lunak yang mahal.

Sedangkan dari sisi bisnis, Rudy melihat, jika pengunjung warnet semakin banyak, maka bisnis ini juga akan terjaga kelangsungan hidupnya dan bisa terus maju.

Antonius Aji, konsultan TI independen yang menjadi tutor pada workshop itu mengatakan, setiap angkatan terdiri dari 20-22 orang dan acara dilakukan selama empat kali pertemuan per angkatan. "Rencananya pilot project ini akan berjalan tiga sampai empat kali," kata dia.

Pertemuan diikuti 22 orang di ruang private dengan 11 personal computer (PC) di Warnet Millenia Panglima Polim. Background peserta bervariasi, mulai dari lulusan STM, SD, masih SMP dan ada yang bekerja sebagai satpam, penjaga warnet pemula dan lain-lain. Dari 22 orang itu, hanya satu yang pernah mengenal komputer, sedangkan lainnya sama sekali belum pernah.

"Jadi quite fun waktu kami mengajarkan menggunakan komputer. Kami menggunakan desktop Linux SimplyMEPIS," kata Aji. Meski lelah dengan persiapan dan pemberian materi, namun kelelahan tersebut terbayar dengan kepuasan melihat kegembiraan peserta memperoleh pengalaman pertama yang menakjubkan.

Pakai Linux
Rudy mengatakan, dirinya optimis dengan program ini setelah menerima email dari para peserta yang mengatakan bahwa mereka akan mencoba untuk tidak menyia- nyiakan ilmu yang telah diberikan.

"Dan yang membanggakan, kita latih mereka dengan software yang gratis dan open. Artinya, paling tidak kita tidak membajak dan bisa menyiapkan tenaga yang nantinya pernah dan tidak canggung menggunakan software yang legal, open namun gratis dan mereka mampu beli jika sudah bekerja," kata Rudy.

Dalam pelatihan itu, kata Rudy, peserta diajarkan bahwa peranti lunak hanyalah sekedar alat (tools). Dengan demikian, meski mereka diajari dengan menggunakan peranti lunak open source yang notabene gratis, namun mereka juga akan bisa menggunakan peranti lunak proprietary seperti Microsoft Windows.

"Ibarat mobil, setelah bisa menyetir satu mobil, mereka akan bisa menyetir mobil lain karena prinsip dasarnya sama. Paling-paling harus menyesuaikan sedikit," terang Rudy.

Bahkan, tambah dia, kalau peserta diajari dengan menggunakan peranti lunak proprietary, itu sama halnya mengajari membajak. "Pasalnya, mereka kan banyak yang tidak mampu beli yang legal. Kalau itu yang terjadi, sisi moral dalam pelatihan ini gagal," kata Rudy.

Rudy berharap, jika proyek percontohan ini berhasil dan semakin banyak mengunjungi warnet, maka akan terjadi lonjakan pemakaian bandwidth. Oleh sebab itu, regulator perlu membuat ketentuan yang jelas tentang service level of agreement dan pelayanan konsumen tentang bandwidth sehingga warnet tidak dirugikan jika layanan pendukung buruk.

"Ketentuan memang sudah ada tapi kami selalu berada pada pihak yang lemah. Jika kami complain, mereka tidak menanggapi, tapi jika kami tak mau bayar karena merasa dirugikan, mereka memutus sambungan," keluh Rudy.

Masalah Kompleks
Pengamat telematika Heru Sutadi menyatakan, masalah masih sedikitnya masyarakat Indonesia yang mengenal Internet tak lepas dari beberapa hal yang dinilai cukup kompleks. Menurutnya, ada tiga hal yang menjadi kendala dalam memasyarakatkan Internet, yaitu menyangkut sumber daya manusia, ketersediaan akses dan kepemilikan komputer.

"Menurut saya, saat ini sebenarnya sudah ada peningkatan, di mana jumlah mereka yang sudah pernah mencoba Internet mungkin mencapai 11 %. Jumlah tersebut memang masih jauh dibanding jumlah penduduk Indonesia. Tapi, untuk mengenalkan Internet secara luas bukan masalah sederhana dan sangat kompleks," ujar Heru kepada Investor Daily.

Misalnya, tambah Heru, masalah akses yang berkaitan dengan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia. "Coba lihat, berapa banyak sih sambungan telepon di Tanah Air. Selain itu, berapa banyak orang Indonesia yang punya komputer? Jadi, bukan masalah mudah dan butuh waktu dan keseriusan bukan saja dari pemerintah. Sebab, seperti saya bilang, masalah ini menyangkut tiga hal tadi," kata dia.

Heru mengakui sudah ada upaya-upaya yang dilakukan oleh beberapa asosiasi di bidang TI yang bekerjasama dengan perusahaan swasta sebagai sponsor, untuk memberikan workshop gratis kepada mereka yang belum pernah menggunakan Internet. "Tapi, seberapa banyak workshop-workshop seperti itu bisa menjangkau masyarakat luas," kata dia.

Namun begitu, Heru menghargai sejumlah upaya yang telah dilakukan baik oleh komunitas maupun oleh pihak swasta. Hanya saja, nuansa bisnisnya jangan terlalu kental. "Kalau bisa kasih workshop gratis itu bagus. Persoalan ada pada perjanjian bisnis antara swasta selaku sponsor dan asosiasi. Misalnya, disepakati workshop-nya digelar di salah satu warnet anggota asosiasi tersebut. Itu sah-sah aja. Itu kan simbiosis mutualisme," tutur dia. (cd/kwh)

 

 

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
Boleh Mengutip, Memperbanyak dan Menyebarkannya
dengan Mencantumkan Sumbernya

2005 © Heru Production