Waspadai Penipuan dan Isu Rasial via SMS Berkedok Aceh
Detikcom, 12 Januari 2005

detikcom - Jakarta, Begitu banyak upaya tipu-menipu dengan memanfaatkan bencana tsunami yang melanda Aceh. Salah satunya menyebar lewat SMS. Pengguna ponsel perlu waspada. Tak lama sesudah gempa dan tsunami melanda Asia dan menimbulkan kerusakan dahsyat di Aceh muncul para dermawan dan relawan yang ingin membantu saudaranya di kawasan bencana. Tapi di sisi lain, muncul juga oportunis yang mencoba memanfaatkan bencana itu untuk keuntungan mereka.

E-mail palsu yang mengaku dari lembaga donor atau keluarga korban bencana bersliweran di internet. E-mail jenis itu biasanya berbahasa inggris dan berusaha mengalirkan dana ke rekening tertentu.

Selain itu, seperti dikemukakan pengamat telematika Heru Sutadi, ada juga modus penipuan yang menggunakan pesan singkat di ponsel (SMS). Pesan tersebut menggunakan kedok adopsi anak-anak Aceh.

Nasib anak-anak pasca bencana Aceh memang menjadi perhatian cukup besar di Indonesia. Dua majalah berita utama di Indonesia bahkan mengangkat isu ini sebagai laporan utama di edisi terbaru.

Menurut Heru, SMS tipuan tersebut juga menyertakan nomor rekening tertentu dengan harapan penerimanya menyalurkan dana ke rekening sang penipu. "Ada pula tawaran mengadopsi anak. Ini perlu diwaspadai, selain bisa dikategorikan perdagangan anak, bisa jadi hal itu hanya tipu muslihat untuk mendapatkan dana saja," Heru menjelaskan.

Oleh karena itu alumni Universitas Indonesia ini berharap agar dermawan di Indonesia hanya menyalurkan dana bantuan lewat lembaga yang memang menjamin transparansi. Heru juga berharap masyarakat waspada akan kemungkinan munculnya situs tipuan berbahasa indonesia.

Selain SMS penipuan, berkaitan dengan bencana Aceh juga muncul SMS yang menyebarkan isu-isu rasial. SMS gelap itu mengabarkan adanya penjarahan toko milik etnis tionghoa di Aceh.

Padahal, menurut keterangan relawan dari komunitas teknologi informasi (TI) yang berada di Aceh, pada kenyataannya hal itu tidak terjadi. "Koordinator tim kita, Valens Riyadi juga berdarah tionghoa dan semua welcome di sini, nothing happen. Toko-toko tionghoa juga sudah buka," ujar Salahuddien, relawan komunitas TI yang membantu pengadaan koneksi internet darurat di Aceh.

Menurut Salahuddien, pesan berbau rasis itu menyebar juga lewat e-mail. Ia melihat hal itu perlu diimbangi dengan pesan yang bisa menjernihkan masalah. "Masalahnya, SMS dan e-mail itu selalu membawa anjuran agar tidak menyumbang ke Aceh," ia menambahkan.

Pesan tersebut ramai beredar pekan lalu di kalangan etnis Tionghoa, terutama yang berdomisili di Jakarta. Seperti layaknya SMS gelap lainnya, pengirim dan sumber SMS tersebut tidak diketahui. (nks)

 

 

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
Boleh Mengutip, Memperbanyak dan Menyebarkannya
dengan Mencantumkan Sumbernya

2005 © Heru Production