JAKARTA, Investor Daily Online
Masyarakat kini masih menunggu sinyal kuat PT Indosat Tbk. Perusahaan seluler terbesar kedua di Indonesia itu telah mengeluarkan janji menyuguhkan kualitas sinyal lebih baik. Janji itu telah terlontar seiring penyelesaian proses integrasi jaringan.
Program integrasi jaringan dilaksanakan secara berkesinambungan dan diharapkan dapat membawa banyak perubahan positif dan pelayanan terbaik kepada pengguna jasa seluler Matrix, Mentari dan IM3.
Memberikan kualitas sinyal kuat bahkan "terkuat", telah menjadi bagian dari strategi perseroan dalam menghadapi iklim kompetisi yang semakin ketat. Hasnul Suhaimi, direktur Pemasaran Seluler Indosat mengatakan, pihaknya secara mantap akan mengandalkan kualitas layanan. Melalui strategi layanan, perseroan optimistis mampu menggaet 3-4 juta pengguna seluler pada tahun 2005. "Strategi kita sekarang terletak di layanan yang berkualitas, selain layanan, harga, saya kira itu pengaruhnya tidak besar lagi," katanya.
Agaknya upaya Indosat memperbaiki kualitas jaringan tidak tanggung-tanggung lagi. Lihat saja, pada tahun 2004 ini, perseroan telah menggandeng 4 mitra vendor dalam rangka melakukan integrasi jaringan. Tercatat, empat vendor akan melakukan integrasi jaringan di beberapa wilayah, seperti, Siemen di Sumatera, Nokia di Jawa Timur, Jawa dan Bali, Ericcson di Jabotabek, dan Alcatel di Jawa Barat.
Hasnul menargetkan proses integrasi jaringan akan rampung pada kuartal III 2005. Kini, proses pengintegrasian jaringan masih terus berlangsung di beberapa daerah. Di Jabotabek, pengintegrasian jaringan masih berjalan dan diperkirakan rampung pada bulan Februari 2005. Setelah area Jabotabek selesai, pengintegrasian jaringan akan berlanjut ke wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian utara. Setelah itu, pengintegrasian jaringan akan merambat keluar Jawa. Di area luar Jawa ini, pengerjaan ditargetkan selesai pada kuartal III 2005.
Proses pengintegrasian jaringan, tercatat, sudah berhasil dirampungkan di beberapa daerah, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah bagian Selatan, dan Yogyakarta. Proses tersebut telah diselesaikan pada Oktober 2004 lalu. Dengan selesainya, proses integrasi jaringan itu, sinyal Indosat sudah semakin kuat.
Hasnul mengakui, tahun 2004 ini, pihaknya memang bekerja keras mengoptimalkan jaringan di Pulau Jawa.
Selama proses pengintegrasian jaringan, perseroan berupaya untuk tidak menganggu kenyamanan pelanggan. Seperti, di area Jabotabek, Hasnul menuturkan, pengembangan jaringan di wilayah ini dikerjakan secara bertahap. Dengan pengerjaan secara bertahap ini, menurut dia, gangguan dapat ditekan seminimal mungkin.
Beberapa pelanggan Indosat, memang mengeluhkan adanya gangguan akhir-akhir ini. Namun, "gangguan kecil" tersebut tampaknya tak akan banyak dipermasalahkan, bila saja, hal itu hanya sebagai bagian dari proses penyempurnaan jaringan untuk menghasilkan layanan yang lebih baik. Dan, tentu, saja, perseroan harus mensosialiasikan hal itu kepada pelanggannya.
Heru Sutadi, pengamat Telekomunikasi mengatakan, proses integrasi jaringan menjadi salah satu modal penting perseroan dalam menghadapi kompetisi tahun 2005. Sebagai operator kedua, upaya mengintegrasikan jaringan diharapkan bisa menyeimbangkan kekuatan mereka dalam menghadapi pesaing utama sekaligus pemimpin pasar PT Telkomsel.
Heru melihat keunggulan PT Telkomsel terletak pada jaringan, sehingga optimalisasi jaringan yang dilakukan perseroan merupakan langkah yang tepat untuk diterapkan perseroan. "Coverage yang semakin luas dibarengi dengan kekuatan sinyal, saya kira akan menjadi pertimbangan masyarakat untuk tetap memilih Indosat sebagai operator seluler mereka," katanya.
Sementara itu, bagi Indosat, bisnis seluler telah menjadi fokus perseroan. Tercatat, berdasarkan data 30 September 2004, kontribusi jasa seluler terhadap total pendapatan usaha mencapai 68,5%. Sedangkan, jasa SLI dan MIDI (multimedia, data communication dan internet) masing-masing hanya memberikan kontribusi 16,4% dan 14,2% terhadap pendapatan usaha. Sisanya, 0,9% dikontribusikan oleh pendapatan lainnya.
Komitmen perseroan terhadap bisnis seluler, terlihat nyata dari, alokasi belanja modal. Pengeluaran modal sebesar US$ 650-700 juta selama tahun 2004 ini, 80% diantaranya telah dialokasikan untuk mengembangkan bisnis seluler baik dari segi cakupan, kapasitas maupun kualitas. Selanjutnya, untuk tahun depan, dengan nilai belanja modal yang sama, alokasi dana belanja modal tetap diprioritaskan bagi bisnis seluler.
Sementara itu, hingga 30 September 2004, Indosat telah membukukan jumlah pelanggan seluler sebanyak 8,977 juta atau tumbuh 78,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perseroan yakin hingga akhir tahun 2004 memiliki pelanggan hingga 9,5 juta. (Trimurti)