JAKARTA (Bisnis): PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Tbk akan melakukan injeksi berupa investasi hingga Rp1,7 triliun selama 2005 untuk layanan fixed wireless berbasis CDMA TelkomFlexi, sehingga tahun depan diharapkan bisa meraih tambahan 1,5 juta pelanggan.
Direktur Bisnis Jasa PT Telkom Suryatin Setiawan mengatakan dana yang diinvestasikan untuk layanan itu merupakan komitmen BUMN itu untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan perluasan daerah jangkauannya.
"Tahun depan blank spot area layanan Flexi diharapkan sudah mulai berkurang. Dengan demikian keluhan-keluhan soal layanan Flexi juga akan berkurang selain tentunya menambah daerah jangkauannya. Itu tujuan kami menyediakan dana sebesar itu," ujarnya kepada Bisnis akhir pekan lalu.
Selain jasa telepon tetap, BUMN itu kini mengandalkan jasa layanan telepon fixed wireless berbasis CDMA. Hingga per akhir Oktober, perusahaan telekomunikasi itu telah meraih 1,2 juta pelanggan dari layanan TelkomFlexi. Sementara untuk jasa telepon tetap mencapai 8 juta SST (satuan sambungan telepon).
Untuk jasa yang sejenis terutama yang menggunakan teknologi berbasis CDMA (Code Division Multiple Access) CDMA2000 1X, Indosat juga telah memperoleh lisensi layanan fixed wireless dengan merek dagang StarOne. Kompetitor lainnya adalah Bakrie Telecom dengan nama Esia. Dengan menggunakan teknologi yang sama, Mobile-8 juga melayani jasa itu namun mereka masuk katagori jasa seluler dengan daerah cakupan nasional.
Selain perluasan daerah jangkauan dan peningkatan kualitas layanan, Suryatin mengemukakan perusahaan yang berstatus go publik itu juga akan menggandeng tiga vendor utamanya masing-masing Samsung, Motorola dan Ericsson untuk membangun pusat kompetensi CDMA.
"Kami memiliki visi yang sama untuk mengembangkan CDMA. Oleh karena pusat kompetensi itu bisa digunakan bersama-sama untuk pengembangan CDMA di Indonesia, salah satunya membuat aplikasi konten mobile wireless," ujarnya.
Dia menyakini jasa telepon berbasis CDMA akan mengalami booming selama 2005 apalagi ketersediaan handset akan semakin mudah dan murah.
Oleh karena itu pihaknya juga menyiapkan implementasi layanan berbasis CDMA2000 1X EV-DO yang memungkinkan penggunanya untuk menikmati layanan data berkecepatan tinggi
"Kami saat ini telah melakukan uji coba layanan itu di Surabaya. Diharapkan layanan itu sudah bisa direalisasikan akhir 2005 seiring dengan ketersediaan handset CDMA untuk data kecepatan tinggi yang semakin murah dan mudah. Selain itu konten juga akan semakin kaya," tuturnya.
Pasar SLI
Sementara di tempat terpisah, pengamat telekomunikasi dari Universitas Indonesia Heru Sutadi menilai Telkom berpotensi menguasai 60% pangsa pasar sambungan langsung internasional (SLI) karena didukung jaringan fisik dan bisnis yang lebih luas.
"Meski baru memasuki bisnis SLI melalui Telkom International Call 007 (TIC 007), Telkom dapat menjadi market leader di SLI dalam waktu singkat," katanya kepada Bisnis.
Menurut dia, hal itu bisa terjadi karena bisnis SLI tidak sekedar satu sitem tersendiri melainkan juga sangat terkait dengan jaringan yang saat ini mayoritas dimiliki BUMN telekomunikasi tersebut.
"Seperti tahun ini, meski hanya dalam kurun waktu tujuh bulan Telkom menargetkan 25% market share dan itu tidak sulit dicapai. Bahkan, jika beroperasi selama 12 bulan tahun ini bisa menguasai 30% pangsa pasar."
Selanjutnya, Heru memproyeksikan dengan dukungan jaringan fisik dan bisnis yang lebih luas dibanding pesaingnya PT Indosat yang telah lebih dahulu menggarap bisnis SLI, tahun depan Telkom sudah bisa menguasai 51% pangsa pasar.
Dia menggarisbawahi pencapaian 51% pangsa pasar itu dapat terjadi jika Indosat tidak segera membenahi bisnisnya. Sementara di sisi lain Telkom terus melakukan ekpansi besar-besaran untuk mengoptimalkan pasar SLI.
"Di bisnis SLI sulit mengandalkan loyalitas pelanggan di Indonesia karena yang dilihat adalah tarif yang kompetitif dan jaringan yang luas. Dengan kondisi saat ini, dalam beberapa tahun ke depan Telkom berpotensi meraih hingga 60% pangsa pasar SLI," tandasnya.
Dengan melihat basis pelanggan Telkom dan jaringan bisnis melalui outlet, Heru berpendapat pencapaian 60% pangsa pasar itu cukup realistis karena selain pengguna lama kemungkinan pengguna SLI yang baru lebih banyak yang menggunakan TIC 007.
Menyinggung tentang pasar SLI tahun depan, dia memproyeksikan masih akan terus tumbuh antara 20%-25% atau dengan nilai bisnis sekitar Rp2 triliun sampai Rp2,5 triliun seiring dengan bangkitnya industri dan meningkatnya jumlah tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. (jha/fh)